Padang Kurusetra, Halaman Belakang Astina, Sebelum Perang Bharatayudha

by Nano Bethan
128 views
opini

Oleh: Agus Widjajanto*

Astina merupakan sebuah Negara yang makmur, subur dengan beragam budaya, bahasa dan adat istiadat yang memukau seluruh jagad Dewata. Sebelum lahirnya Pandawa Lima, halaman belakang Astina (Tritis mburi Paseban), padang yang luas disebut sebagai Padang Kurusetra, tempat terjadinya pertempuran paling menentukan dalam perang Bharatayudha. Pemicu perang dunia yang menentukan hidup dan matinya Negara Kurawa, beserta negara-negara Harjana serta Singaparna.

Padang Kurusetra yang ditulis dalam kisah pewayangan sebagai perang terbesar dalam dunia dongeng, digambarkan sebagai lautan lepas, yang kandungan mineral gas bumi dan minyak bumi hingga jutaan metrik ton, yang bisa menghidupi energi kerajaan Kurawa. Diklaim sebagai wilayah tradisional tempat mengais rejeki sejak leluhur-leluhur Kurawa ribuan tahun yang lalu.

Kurawa adalah sebuah bangsa yang masyarakatnya menyebar di seluruh jagad raya, menguasai berbagai lini, baik keuangan, perbankan, tehnologi informasi, pertambangan, hingga dunia medis, yang meraup milyaran dolar, sebagai mana mata uang jaman sekarang.

Prabu Krisna selaku Raja di Raja, dimana kekuasaan suara rakyat adalah suara gusti  di kerajaan Astina yang kaya raya. Selalu berpikir, apa yang akan terjadi, melihat situasi Padang Kurusetra sebagai tempat perburuan mineral dan menjadi perebutan antar negara baik Kurawa maupun Amarta dan koalisi  kerajaannya Singaparna.

Prabu Krisna berharap berdoa kepada Syang Yang Widi , agar segera dilahirkan Pandawa Lima, sebagai para punggawa kesatria negara yang gagah berani, sakti mandra guna bila waktunya tiba untuk bisa berperang. Perang yang  dipicu oleh perebutan wilayah laut yang disebut Lautan Padang Kurusetra, yang dijaman alam terang dikenal dengan Laut China Selatan (LCS).

Selalu timbul masalah saling klaim tumpang tindih antar peta garis putus-putus yang dikenal dengan Nine Dast Line, antara kerajaan Philipania  dan Vietnamaja serta tentu akan menyeret Amarta beserta sekutunya di selatan jauh yang bernama kerajaan Austamania.

Astina sendiri memang wilayah Padang Kurusetra, halaman belakangnya mau tidak mau suka tidak suka akan terseret dalam pusaran konflik peperangan paling berdarah yang melibatkan negara-negara besar, bukan hanya Kurawa dan Amarta  serta Austanamia. Akan tetapi juga menyeret kerajaan di wilayah pulau kecil, terhimpit wilayah yang bernama Singaparna sebagai pusat keuangan wilayah dekat dengan perbatasan Astina.

Astina sendiri dalam beberapa dekade telah terjadi pergantian kepemimpinan dimana pendiri Astina, Raja Soekarnapurnayudha, telah memproklamirkan diri sebagai Pembuka Gerbang Astina,  mengantarkan kemerdekaan Astina pura. Oleh para pujangga, dibagi menjadi 7 generasi Raja-raja, Astina dengan berbagai sebutan yakni:

  1. Satriyo Kinunjoro Marwo Kuncoro
  2. Satriyo Mukti Wibowo Kesandung Kasempar
  3. Satriyo Jinumout Sumelo Atur
  4. Satriyo Lelono Topo Ngrame
  5. Satriyo Piningit Hamong Tuwuh
  6. Satriyo Boyong Pembukaning Gapuro
  7. Satriyo Atriyo Pinandito Sisihaning Wahyu.

Sebagai Perdana menteri terpilih di Astina, Syang Yang Widi Prabu Brabowaseso  mewakili Prabu Krisna sebagai Manifestasi Suara Rakyat,   merasa masgul dengan kondisi saat ini. Beliau sebagai Raja pada urutan ke-6 dalam penggolongan ramalan Jayabaya  yakni,  Satriyo Boyong Pembukaning Gapuro, menghantarkan Raden Prabowaseso ke singgasana Astina.

Apakah mampu untuk membuka gerbang Gapuro  kesejahteraan dan keadilan bagi masyarakat Astina ?  Ditandai terjadinya segala macam masalah dan bencana yang silih berganti, ditengah maraknya korupsi, tindak kejahatan, ketidakadilan, ekonomi jagad raya yang sulit.

Padahal Astina Raya merupakan sebuah kerajaan yang netral, tidak membentuk sebuah koalisi militer seperti AUKUS, untuk menunggu datang nya Satriyo Pinandito Sisihaning Wahyu menjelang perang Bharatayudha dipadang Kurusetra .

Apakah peperangan akan pecah sebelum lahirnya Parikesit atau Satriyo Pinandito Sisihaning Wahyu? Hal ini harus dipersiapkan sejak dini, bahwa bisa saja Kurawa dengan ambisi besarnya ingin menjadi penguasa jagad raya, akan meletupkan perang dengan menyerang terlebih dahulu kerajaan atau negara yang punya kepentingan jalur yang melewati Padang Kurusetra, sebagai jalur bebas international yang jadi jalur urat nadi perdagangan international. Bukan tidak mungkin karena wilayah Padang Kurusetra terletak persis dihalaman belakang Astina Raya maka pasti akan terimbas atas peperangan besar tersebut yang berakibat yang kalah jadi arang yang menang jadi abu.

Pangeran Prabowaseso selaku pemegang komando atas restu Prabu Kresna harus  berpikir keras bagaimana mempersiapkan diri, baik menyangkut kekuatan udara yang nanti dikomandani oleh Gatot Katja, angkatan laut yang akan dikomandani oleh Bima dengan senjata Gada Rujakpala, maupun angkatan darat yang dikomandani oleh Arjuna.

Saat ini para Pandawa Lima belum lahir dan masih dalam kandungan dari hasil perkawinan Pandu Dewanata dengan Dewi Kunti dan Dewi Madrim, maka Prabu Krisna berharap kepada Syang Yang Gusti. Agar segera dilahirkan untuk memperkuat angkatan perang Astina dalam menjaga teritori negara sebagai negara besar dan berdaulat.

Memang berat tugas Pangeran Prabowaseso selaku wakil dari Bhatara Krisna, harus membereskan masalah dalam negeri Astina sendiri. Banyak sekali pegawai keraton korupsi yang sudah jadi budaya, Aparat Penegak Hukum jalan sendiri-sendiri menggunakan kekuasaannya yang terang-terangan menabrak aturan hukum yang ada. Hukum sudah tidak jadi panglima tapi hukum jadi komoditas bisnis dan kepentingan politik praktis.

Resi Begawan Sekutrem telah menasehati agar Perdana menteri Prabowaseso meniru keputusan Negara Hongkohong pulau dekat  daratan Kurawa, yang berani mengganti seluruh APH yang dianggap korup dengan merekrut anak-anak muda dengan pendidikan gratis dan seleksi transparan tanpa biaya. Menciptakan APH yang bersih demi kestabilan Astina, untuk menghadapi perang Bharatayudha, agar terjadi keseimbangan dalam negeri, kuat secara jasmani dan rohani mental spiritual tanpa ada pengkhianatan dari dalam.

Dilakukan obsi mengganti sistem hukum yang ada dari sistim lama kepada sistim baru, berupa sistim juri dimana hakim hanya sebagai penengah seperti halnya dalam sistem hukum Negara Amarkhan. Dimana juri diambil dan  dipilih secara acak di masyarakat dengan latar belakang berbeda yang tujuannya adalah mencapai rasa keadilan masyarakat, begitulah saran Resi Begawan Sekutrem.

Dalam perang Bharatayudha, musuh paling berat yang dihadapi Pandawa adalah pangeran Jayadarna Lembu Peteng, anak dari Begawan Supeni yang sakti mandraguna. Walau dipenggal kepalanya, Jayadarna Lembu Peteng masih hidup, karena doa dari Resi begawan Supeni yang berdoa Jayadarna hidup. Prabu Krisna dalam perang Bharatayudha harus mengurus Petruk dan Gareng untuk mengganggu doa resi Begawan Supeni menjadi Jayadarna mati, bukan hidup, barulah gerakan perang Supit udang pasukan Jayadarna bisa ditumpas.

Bahkan Jayadarna telah membikin manufer Astina gelap untuk meruntuhkan kewibawaan Pangeran Prabowaseso dalam pemerintahan. Dalam Dunia  alam terang, tiada yang selalu mulus pasti ada hambatan, ada batu  sandungan, anggap saja batu  kerikil sebagai batu sandungan dalam mencapai tujuan dalam perjalanan  untuk kemenangan Astina Raya kedepan.

Prabu Krisna, Raja Astina Raya, bersenjatakan Trisula Wedha, yakni tombak bermata tiga yang mempunyai kekuatan sangat dahsyat sebagai lambang supremasi laut udara dan darat yang dikenal dengan Trimatra. Sangat dihormati, tidak hanya negara Kurawa, akan tetapi juga Amarta, Austanasia, serta Singaparna.

Namun dalam politik kepentingan, adalah selalu dominan untuk menjadi kawan maupun lawan. Akan tetapi setidaknya Prabu Krisna bisa memanfaatkan kekuatan dan kesaktiannya untuk menjaga teritorial negara Astina Raya beserta kemakmuran rakyat nya dalam menghadapi segala kemungkinan terburuk dalam perubahan Geo Strategis dan Geo Politis kawasan maupun Jagad Raya.

Prabu Krisna yakin sesuai petunjuk alam kelangitan bahwa Astina Raya akan mengalami kemenangan dan kejayaan yang dapat membawa rakyatnya menuju kemerdekaan, yakni yang makmur dan  berkeadilan serta yang adil dan berkemakmuran dengan alamnya yang gemah Ripah loh jinawi, Toto tentrem Kerto raharjan, Jayalah negeriku Jalas Veva jaya Mahe.

Semoga  seperti kisah pewayangan, bahwa kadang hidup adalah sebuah mimpi dan yang kerap  jadi kenyataan adalah imajinasi dari impian itu sendiri, I Hope***

*Penulis adalah pemerhati sosial budaya dan sejarah bangsanya

Berita Terkait