Etika dalam Kehidupan Berbangsa dan Bermasyarakat

by Nano Bethan
105 views
Opini

Oleh: Agus Widjajanto*

Etika dan moral adalah dua konsep yang saling berkaitan erat dalam mengatur perilaku manusia. Etika sendiri adalah tata cara dan ilmu yang mengatur dan mempelajari nilai nilai moral. Sedangkan moral adalah pedoman perilaku yang dianut oleh setiap individu dalam bermasyarakat dan berbangsa.

Etika merupakan cabang filsafat yang mempelajari nilai-nilai moral, norma-norma dan prinsip-prinsip yang mengatur dan membimbing perilaku manusia.

Dalam kaitan berbangsa dan bermasyarakat baik sebagai individu maupun sebagai profesi apapun dalam kehidupan yang bersifat formal dan terstruktur, seperti diatur dalam kode etik, baik tertulis maupun tidak tertulis dalam profesi tertentu.

Bersifat teoritis dan filosofis, merupakan pedoman yang harus dipakai dan dijalani, agar dalam kehidupan baik berbangsa dan bermasyarakat tidak timbul masalah dan gesekan yang berujung melanggar aturan yang disepakati bersama dalam bermasyarakat baik secara hukum privat maupun hukum publik, pada sebuah negara, termasuk hukum adat kebiasaan dalam masyarakatnya di negara tersebut.

Etika dan moral selaku berkaitan seperti hal nya dua sisi mata uang, yang dalam aturannya bersifat umum dan universal dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Etika dan moral juga bisa bersifat evolusioner dan dapat mengalami perubahan seiring waktu dan jaman yang tetap melekat dan digunakan dalam membimbing praktek profesional baik etika dalam dunia medis, etika bisnis, etika berpolitik maupun etika dalam pergaulan antar individu dalam masyarakat dan berbangsa.

Berbicara etika maka pada masa reformasi ini yang seharusnya diharapkan ada perbaikan baik secara moral maupun etika dari masyarakat Indonesia dan para pejabat publik dalam kaitan bernegara. Pasca reformasi, jatuhnya pemerintahan Orde Baru pada tahun 1998, yang menganggap saat itu rezim pemerintahan penuh dengan kediktatoran dan kolusi, akan tetapi justru yang terjadi saat ini lebih parah dari pada sebelum jatuhnya Rezim Orde Baru.

Dimana budaya unggah ungguh saking menghormati, saling asah asih asuh antar sesama, saling tolong menolong dan budaya gotong royong telah hilang dan sengaja dihilangkan lewat sistem pendidikan yang dimulai dari tingkat dasar, hingga menengah dan tinggi.

Anak kadang tidak lagi menghormati orang tua, dan murid tidak menghormati guru, mahasiswa tidak menghormati Dosen. Masif terjadi dan hal ini akibat dari pada contoh yang telah dipertontonkan para pemimpin dalam beretika baik secara politik maupun dalam memberikan contoh sehari-hari kepada publik, lewat media elektronik maupun media social. Berakibat masyarakat jadi apatis dan semau sendiri dalam menjalani kehidupan bermasyarakat yang berdampak pada kehidupan berbangsa dan bernegara.

Runtuhnya sebuah negara selalu dimulai dari dalam, yakni hancurnya moralitas dari para pemimpin, hancurnya moralitas dari para kaum agamis, hancurnya moralitas dari para politisi baik yang ada di Eksekutif maupun Legislatif dan yang paling menakut kan adalah hancurnya para penegak hukum dalam dunia Yudikatif. Berakibat menghancurkan sendi sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Hancurnya sebuah keluarga karena adanya putusan pengadilan yang tidak adil, hancurnya badan usaha, hancurnya sumber daya alam  dan hancurnya sendi-sendi sebagai pilar Negara Hukum (Rech State).  Akibat dari pada hilangnya etika dan moral yang dipertontonkan oleh para pemimpin, baik dari eksekutif, legislatif maupun yudikatif serta kaum agamawan yang hidup  bermewah-mewahan ditengah masyarakat yang kesulitan secara ekonomi.

Kehancuran moral yang berakibat tiadanya etika dalam kehidupan sehari-hari, tidak saja merupakan kesalahan dari pada pemimpin nya, akan tetapi juga kesalahan ada pada setiap kepala rumah tangga dan para kaum pendidik baik dari strata dasar, menengah maupun tinggi, kaum agamawan yang tidak mampu memberikan pencerahan untuk mencapai pada tataran insan yang religius, hingga  tidak mampu lagi mengajarkan Tut Wuri Handayani, dan ing ngarso sun tulodo, kepada anak didiknya .

Bahwa pedoman menyangkut ilmu kepemimpinan sudah diajarkan melalui ajaran ajaran luhur dari para leluhur bangsa dalam menuntun sikap para pemimpin baik dalam strata pimpinan tertinggi maupun pemimpin daerah, pemimpin badan usaha, hingga pemimpin terendah dan terkecil dalam masyarakat yakni  sebagai kepala rumah tangga.

Seorang pemimpin harus bersikap: 1. Adil Ambeg Paramarta: Pemimpin harus bersikap adil dan dapat membedakan urusan penting dan tidak penting sehingga dapat fokus pada urusan penting dan kepentingan yang lebih besar dan luas dalam masyarakat.

2. Berbudi bawa laksana: Pemimpin harus bermurah hati serta teguh memegang janji pada rakyat saat kampanye, menepati janji saat menjabat. Maka akan mendapat kepercayaan rakyat sebagai pemimpin yang bisa di percaya dan amanat.

3. Wicaksana: Pemimpin harus bijaksana dalam mengambil keputusan untuk masyarakat luas, dan bisa menjadi pengayom untuk segala lapisan, baik mayoritas maupun minoritas dalam berbangsa dan bernegara.

4. Eling dan Waspada: Pemimpin harus ingat sebagai pemimpin sejatinya adalah abdi masyarakat, karena harus melayani masyarakat, bukan berharap dilayani masyarakat. Pemimpin harus bisa mengerti dan memahami dan menguasai setiap bawahan yang menjadi pembantunya agar bisa bersinergi untuk menuju kepada masyarakat adil yang berkemakmuran dan makmur yang berkeadilan.

5. Sabdo Pandito Ratu: Pemimpin harus bersikap kesatria, dimana segala ucapannya adalah hukum yang berkeadilan, dan segala janjinya harus ditepati dan dilaksanakan, layaknya seorang Raja yang merupakan wakil dari Tuhan yang Esa, dalam  kapasitas pembimbing dan pengayom masyarakatnya.

6. Manunggal Kawulo Lan Gusti: Pemimpin harus bisa menyatu dengan rakyatnya, sebagai satu kesatuan tunggal, karena sesungguhnya Suara Rakyat adalah Suara Tuhan (Vox Populi Vox Dey). Seorang pemimpin adalah mewakili rakyat sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan.

Salah satu falsafah etika dan moral dalam perspektif kepemimpinan nasional khususnya Jawa, adalah Hasta Brata, dalam kisah Kakawin Ramayana dan Kakawin Mahabaratha Hasta Brata yakni delapan ajaran utama yang dalam Kakawin Ramayana ajaran Hasta Brata diajarkan oleh Prabu Ramawijaya kepada Lesmana. Sedangkan dalam Kakawin Mahabharata ajaran tersebut disampaikan oleh Begawan Kisawadidi (Prabu Bhatara Krisna) kepada Arjuna di Padang Kurusetra.

Delapan ajaran tersebut antara lain:  1. Mulat laku jatraning Surya: Seorang pemimpin harus meneladani matahari yang memberikan cahaya terang dan menjadi sumber kehidupan di muka bumi .

2. Mulat Laku Jatraning Condro: Seorang pemimpin harus meneladani rembulan yang memberikan cahaya terang pada gelapnya malam. Maknanya, harus memberikan solusi masalah dalam masyarakat pluralisme seperti Indonesia.

3. Mulat Jatraning Kartika: Seorang pemimpin harus meneladani bintang yang bersinar terang di kejauhan dan ketinggian yang akan dijadikan pedoman arah dan teladan rakyat nya.

4. Mulat laku jatraning Angkasa: Seorang pemimpin harus meneladani langit atau angkasa raya luas yang tidak terbatas yang mampu menampung segala permasalahan rakyatnya (Kawulo).

5. Mulat laku jatraning Maruta: Seorang pemimpin harus bisa meneladani angin yang berada dimana mana yang selalu mengisi ruang dan waktu, yang maknanya pemimpin harus selalu dekat dengan rakyat tanpa membedakan golongan mayoritas, minoritas.

6. Mulat laku jatraning Samudera: Seorang pemimpin harus bisa meneladani lautan luas yang biru menyejukan yang penuh cinta kasih kepada Kawulo rakyatnya.

7. Mulat laku jatraning Dahana: Seorang pemimpin harus meneladani api (Dahana) yang panas hingga bisa menghangatkan dan membakar setiap yang disentuhnya yang maknanya berwibawa dan berlaku adil.

8 Mulat laku jatraning Bantala: Seorang pemimpin harus bisa meneladani bumi yang bersifat kuat dan bermurah hati sebagai pengabdian pada Kawulonya.

Peran media baik media elektronik dan sosial, media cetak, juga sangat berpengaruh akan rusaknya moral etika dari bangsa ini. Media lebih suka mempertontonkan tokoh pengamat politik dan sosial yang mengumbar umpatan, yang selalu bersebrangan dengan moral dan etika dalam masyarakat yang justru laku dijual dalam tayangan di media tersebut.

Ini juga salah satu aspek terjadinya degradasi moral anak bangsa, belum lagi pengaruh media sosial yang menayangkan hal yang dianggap modern dari kebiasaan negara barat yang sebetulnya tidak cocok diterapkan di Indonesia sebagai bangsa timur. Ini juga menjadi tanggung jawab insan media yang turut andil dalam memacu terjadinya kerusakan moral dan etika bangsa ini, karena pengaruh bisnis yang hanya berkiblat pada keuntungan.

Mari kita saling bergandeng tangan, mengembalikan sebuah kehidupan bermasyarakat dan berbangsa yang beretika dan bermoral menuju karakter bangsa yang sejati. Bangsa Indonesia yang telah dibangun oleh para pendiri bangsa dengan darah dan harta serta airmata, yang tidak bisa dinilai dengan materi.

Kehancuran dan kejayaan sebuah bangsa terletak pada pundak setiap anak bangsa, tidak terkecuali laki-laki maupun perempuan, apapun status sosial, ras, agama maupun sukunya, ada pada pundak kalian semua  sebagai anak bangsa. Apa yang bisa kalian berikan pada Bangsamu, jangan justru  selalu berharap pada apa yang bisa diberikan Negara dan  Bangsa ini kepadamu. Majulah negeriku****

*Pemerhati masalah sosial budaya, hukum dan politik serta sejarah bangsanya

Berita Terkait