Reformasi Tahun 1998, Ada Peran Asing  Menginginkan Jatuhnya  Pemerintahan Orde Baru

by Nano Bethan
297 views
Agus Widjajanto

Oleh: Agus Widjajanto

Reformasi  tahun 1998 yang dimotori para tokoh yang mengklaim dirinya reformis yang bertujuan luhur  yakni perubahan ternyata boleh dikata, hanya mengantang asap. Mahasiswa bergerak menduduki gedung DPR/MPR, 27 tahun lalu,  pada akhirnya hanya  menjadi penggalan cerita suramnya perjalanan Bangsa ini.

Reformasi untuk perubahan  disegala lini dan bidang kehidupan berbangsa dan bernegara, kenyataannya bukan semakin baik teteapi menggiring menuju titik terendah terjadi degradasi moral bangsa. Korupsi bukan hanya dilakukan secara masif dan terstruktur pada semua lini kehidupan yang dibarengi penegakan hukum yang carut marut, dimana hukum bukan lagi dijadikan sebagai panglima justru banyak kasus hukum yang muncul sebagai komoditas kepentingan  dan dijadikan lahan bisnis yang berakibat rakyat semakin menderita.

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK ) dimana-mana, tumbangnya Pabrik tekstil Sritex pada 1 Maret 2025, belum lagi kasus korupsi pengopolosan minyak pertamak di Pertamina Patra Niaga, kasus timah Bangka Belitung, kasus pagar laut Tangerang  dan rumor yang beredar dimedia masa terjadinya pemalsuan batangan emas di sebuah perusahaan besar, adalah indicator, Negeri ini sedang dalam keadaan tidak baik,  ada yang tidak beres.

Baca juga: Catatan Sejarah, Mengenang Peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 di Jogjakarta

Kasus 1998 adalah sebuah tragedi yang harus dijadikan momentum untuk diingat bersama, bahwa ternyata kita telah dijadikan kaki tangan pihak International dalam  agenda untuk menjatuhkan sebuah pemerintahan yang secara defacto sangat kuat secara ekonomi dan stabilitas politik. Ditakuti akan melebihi Jepang dan Korea Selatan serta Tiongkok, menjadi Negara Macan Asia, yang bisa membahayakan negara besar.

Dihimpun dari berbagai sumber, penulis mencoba mejabarkan mengapa dan kenapa pemerintahan Orde Baru harus dijatuhkan?

Mahatir M: “Krisis ekonomi 1998 memang dirancang untuk menjatuhkan Pak Harto. Jika Pak Harto tidak jatuh, Indonesia akan jadi Negara maju”.

Sultan Bolkiah: ”Dipimpin Pak Harto Indonesia bersatu. Pemerintahan stabil, ekonomi maju sangat pesat. Sangat disayangkan beliau dijatuhkan”.

Lee Kuan Yew: “Pak Harto pemimpin luar biasa. Beliau harus mendapat tempat terhormat dalam sejarah Indonesia”.

Baca juga: Padang Kurusetra, Halaman Belakang Astina, Sebelum Perang Bharatayudha

Pak Harto berkali-kali mengutarakan niat untuk mundur, namun beliau melihat ancaman luar biasa besar membahayakan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Fitnah KKN terhadap Pak Harto dan keluarga, yang kemudian dituangkan dalam TAP MPR untuk memeriksa harta kekayaannya, ternyata tidak terbukti.

Majalah TIME, Agen konspirasi global memfitnah Pak Harto & keluarga dengan tuduhan punya simpanan USD 30 Miliar ternyata tidak terbukti sama sekali. Berbagai Tim Khusus dibentuk pemerintah untuk menyelidiki harta Pak Harto, satu pun tidak menemukan rekening di perbankan asing. “Silahkan cari kemana saja, jika terbukti saya ada simpanan 1 sen saja, saya siap dihukum mati,” kata Pak Harto.

Semua tuduhan itu fitnah dan belakangan terbukti, Pak Harto dijatuhkan oleh Konspirasi Global (P Demokrat AS, PKC China dan sekutunya) berkolusi dengan kelompok anti Soeharto. Penyebab utama Pak Harto dijatuhkan karena kemesraan dan keberpihakan Pak Harto yang besar kepada umat Islam sejak 1986 membuat  pihak-pihak  tertentu marah.‎ Negara ini merdeka 1945, namun kemerdekaan umat islam Indonesia sejatinya baru terjadi pada tahun 1986/1987, setelah Pak Harto berpaling ke Islam.

Sebagai manusia Pak Harto sudah pasti tidak sempurna, ada kelemahan, kesalahan, kekurangan, namun beliau tetap Pahlawan, jasanya luar biasa besar. Terbukti pada beberapa hari setelah PKI melancarkan G30S/PKI, membunuh para pimpinan TNI AD dan  ulama-ulama serta tokoh-tokoh anti PKI di seluruh Indonesia.

Baca juga: Kembalikan Marwah MPR sebagai Pelaksana Kedaulatan Rakyat, Amandemen UUD 1945 Menciptakan Masalah

Dari dokumen rahasia CIA yang sudah boleh diakses publik ditemukan catatan pejabat CIA tentang pertemuan pertama CIA dengan Pak Harto awal Oktober 1965. CIA belum pernah buka ke publik, Pak Harto juga tidak pernah ungkap mengenai pertemuannya dengan CIA beberapa hari setelah G30S/PKI di Jakarta.

Laporan CIA itu menyebutkan bahwa setelah PKI melakukan Gestapu, TNI AD di pimpin Mayjen. Soeharto berhasil menggagalkan PKI untuk kendalikan NKRI. Faktor utama kegagalan Gestapu PKI, menurut CIA adalah ‘Timing’ yang tidak tepat, Gestapu dilakukan 5 hari sebelum HUT TNI 5 Oktober 1965 adalah kesalahan fatal. Gestapu PKI dilancarkan pada saat seluruh pasukan TNI dan pimpinan TNI sedang berkumpul di Jakarta, mobilisasi pasukan dalam rangka HUT TNI.

Kesalahan fatal kedua PKI adalah meremehkan sosok Soeharto yang hanya seorang panglima pasukan cadangan TNI AD, dulu Kostrad tidak prestisius. Panglima Kostrad Mayjen. Soeharto sebagai pimpinan pasukan cadangan pada saat itu memang tidak diperhitungkan PKI sebagai pimpinan utama TNI AD.

Under estimated terhadap Soeharto juga disebabkan karakternya yang tidak menonjol. Soeharto tidak terseret dalam faksi tertentu di TNI AD. CIA mengungkap sikap low profile Soeharto disebabkan oleh kegagalan besar Operasi Trikora Pembebasan Papua Barat, di mana TNI kalah telak dari Belanda.

Baca juga: Peperangan di Padang Kurusetra dalam Epos Mahabharata dan Relevansi dari Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Fakta sejarah: – Operasi Trikora gagal total, ribuan anggota TNI gugur di hutan belantara Papua tanpa pernah berperang dengan musuh (Pasukan Belanda).

  • Ribuan tentara RI mati di hutan belantara Papua karena malaria, kelaparan, kedinginan dll, bukan karena bertempur.
  • Armada AL RI gagal menembus Blokade Papua. Dari 25 kapal perang, hanya 3 yang bisa menuju ke Papua Barat dan tenggelam digempur Armada Belanda.
  • 25 kapal perang RI dibeli dengan pola utang dari Uni Soviet, tidak bisa menuju ke Papua karena tidak ada BBM, mangkrak di Makassar.

Kekalahan telak Operasi Trikora sangat memalukan Soekarno yang sudah terlanjur berjanji kepada rakyat akan membebaskan Papua Barat, Soeharto kena getahnya.

Karakter Soeharto yang low profile, tidak suka berpolitik selama menjadi perwira TNI, membuat posisinya dianggap netral, tidak berbahaya oleh PKI. Di internal TNI pada saat itu, ada TNI faksi pro Soekarno seperti Jenderal Ahmad Yani, ada faksi pro Abdul Haris Nasution (Anti PKI) dan TNI faksi pro PKI.

Baca juga: Falsafah Kepemimpinan Jawa dalam Perspektif  Kepemimpinan Indonesia ke Depan

Dari Film G30S/PKI yang dibuat berdasarkan fakta sejarah itu, rakyat tahu bahwa sempat timbul pro kontra di Polit Biro PKI mengenai Jenderal Ahmad Yani. Keputusan PKI untuk menculik dan membunuh Jend. A. Yani yang Soekarnois didebat anggota Polit Biro PKI. Akhirnya bulat disepakati Jend. A. Yani masuk daftar korban.

Dokumen CIA menyebut bahwa keputusan PKI untuk menghabisi Jend. A. Yani karena kekhawatiran, A. Yani akan jadi masalah jika Soekarno meninggal dunia. Mayjen. Soeharto adalah staf Jend. A. Yani, Pak Harto tidak termasuk pimpinan TNI AD yang diperhitungkan PKI, inilah kesalahan fatal Gestapu PKI.

Laporan CIA jelas menyebut ada kesalahan analisa Polit Biro PKI dalam menyusun daftar korban dan  tidak perhitungkan kemampuan militer Soeharto. Secara politik, benar Mayjen. Soeharto sudah tamat karena memalukan Soekarno, secara militer juga tamat karena hanya jadi Panglima Pasukan Cadangan. Dari perspektif faksi militer, Soeharto tidak masuk faksi mana pun. Soeharto hanya dianggap bayang-bayang Jend. A. Yani, Gestapu pun dilancarkan PKI.

Pertanyaan besar tentang faktor keberhasilan Soeharto lakukan serangan balasan terhadap aksi Gestapu yang berujung kepada penumpasan PKI terjawab dalam Laporan CIA. Saat hampir semua pimpinan TNI AD yang anti PKI dan pro Soekarno sudah dibunuh PKI, yang tersisa hanya Mayjen. Soeharto dan Jend. Nasution yang terluka.

Baca juga: Saatnya Mengembalikan Marwah MPR sebagai Pelaksana Kedaulatan Rakyat

Mengapa Soeharto bisa mobilisasi TNI begitu cepat dalam jumlah besar?

  1. Sebagian besar Pasukan TNI ada di Jakarta dalam rangka HUT TNI 5 Okt 1965.
  2. Soeharto adalah Mantan Panglima Trikora, satu-satunya Jendral yang berpengalaman memobilisasi pasukan TNI dalam jumlah besar luput dari analisa PKI. Soeharto selaku eks Panglima Operasi Trikora berpengalaman koordinasi dan mobilisasi pasukan dari tiga matra TNI Soeharto, Mantan Panglima Operasi Trikora berpengalaman memimpin dan  memobilisasi ratusan ribu pasukan.

Menurut CIA, Soeharto memerangi pemberontakan PKI 1965 sama seperti perang lawan pasukan Belanda. Hanya saja PKI lebih lemah daripada Belanda. Laporan CIA tentang G30S/PKI dan operasi penumpasan PKI yang baru diungkap setelah 30 tahun disimpan sebagai dokumen rahasia menjawab banyak pertanyaan rakyat. Jika bukan Mayjen. Soeharto yang tersisa dan mengambilalih komando pimpinan TNI AD, sejarah Indonesia pasti berubah, “Republik Indonesia sudah menjadi negara komunis”.

Banyak kemungkinan terjadi, dan semuanya lebih buruk, jika tidak ada Mayjen. Suoeharto ketika Gestapu PKI terjadi. Komunis Rusia setelah sukses melakukan Revolusi Bolsyewik 1917, komunis Rusia melakukan pembersihan, puluhan juta rakyat antikomunis dibunuh.

Komunis China selama revolusi kebudayaan bunuh puluhan juta rakyat sendiri. Vietnam, Kamboja, Laos, Kuba, dll, Komunis bunuh jutaan rakyat mereka sendiri yang anti Komunis. Komunis di seluruh dunia sama, sesama komunis bersaudara dan tidak  mengenal batas negara, mereka dipersatukan oleh Doktrin Komintern. Doktrin Komunis Internasional/Komintern, melahirkan konsistensi militansi setiap kader komunis, sehingga, ikatan persaudaraan komunis dunia sangat erat.

Baca juga: Maha Karya Candi Borobudur,  Simbol Kebhinekaan dan  Berdemokrasi Pancasila 

Kembali ke laporan CIA, Saya sungguh terharu membaca laporan tersebut karena membuktikan Soeharto tidak seperti tudingan sekolompok orang. Disebutkan bahwa setelah Soeharto berhasil memegang kendali TNI dan memulihkan pemerintahan, CIA menawarkan banyak bantuan namun semua ditolak oleh Soeharto.

Soeharto hanya mau berunding dengan CIA-AS jika prasyarat yang dimintanya disetujui oleh pemerintah AS, jika tidak maka tidak ada perundingan. Apa syarat yang diajukan Mayjen Soeharto kepada CIA-AS? Bukan senjata bukan pula uang suap dan juga bukan info intelijen, Soeharto hanya minta beras.

Oktober 1965 Rakyat kelaparan, inflasi 650% (standar normal < 10%), defisit 175% (standar normal < 2,5%), bahan pokok langka, RI dalam bencana kelaparan. Terbukti Soeharto memikirkan nasib rakyat yang terancam mati kelaparan dengan meminta AS kirim beras ke RI, Rakyat RI utang nyawa pada Soeharto.

CIA awalnya menolak permintaan Soeharto, AS bisa bantu kirim senjata dll, tapi tdk bisa kirim beras. Apalagi sebanyak 400.000 ton, AS tak bisa. CIA bujuk Soeharto akan bantu apa saja selain beras, anggaran bantuan beras oleh Presiden AS tidak masuk APBN AS.

Proses persetujuannya rumit, Soeharto tetap pada sikapnya, AS kirim beras ke RI secepatnya, baru TNI akan berunding dengan AS. CIA tidak punya pilihan kecuali lapor ke Lyndon B Johnson. Gara-gara permintaan aneh dari Soeharto kepada AS, Presiden Lyndon B Johnson terpaksa jungkir balik memenuhinya, lobi senator dan anggota kongres.

Baca juga: Putusan MK Menyangkut Ambang Batas  dalam Pengajuan Calon Presiden dan Wakil Presiden Akan Timbulkan Kekacauan

Mengapa AS repot-repot bersedia memenuhi permintaan Mayjen. Soeharto?, Karena keberhasilan Soeharto menggagalkan PKI berkuasa telah meringankan beban berat AS. Perang Dingin Barat vs Komunis sedang pada puncaknya, banyak negara di dunia telah dicengkram Komunis, di Asia Tenggara hampir semua jatuh ke tangan Komunis.

Keberhasilan TNI AD menggagalkan PKI/Komunis berkuasa tanpa campur tangan AS merupakah anugerah terbesar untuk AS yang sedang frustrasi karena Komunis. Kekhawatiran AS bahwa teori domino juga terjadi di Asia Tenggara dipatahkan Soeharto tanpa bantuan AS yang saat itu sedang trauma karena kalah dimana-mana. AS lega, Asia Tenggara gagal dikuasai komunis, Australia lepas dari ancaman ditelan setan komunis. Karena jika RI jatuh, Australia pasti jatuh.

Teori Domino: jika di suatu kawasan sudah ada 2-3 negara yang dikuasai komunis maka Negara-negara komunis tersebut akan membantu komunis di negara tetangga, akhirnya semua negara di suatu kawasan tertentu akan jatuh ke kekuasaan komunis. Sungguh Mengerikan dan tidak bisa dibayangkan dan Alhamdulill, RI gagal dikuasai PKI.

Pemerintah AS sangat terima kasih atas jasa besar Soeharto menggagalkan komunis kuasai RI, Australia, New Zealand, Asia Tenggara, dst. Salah satu bentuk terima kasih AS adalah dengan menekan Belanda dan pengaruh PBB agar Papua Barat diserahkan kepada RI. Disamping melihat situasi begitu kuatnya kekuatan militer Indonesia saat itu yang dibanjiri alutsista dari negeri beruang merah, yang bisa meluluh lantakan tentara Belanda sendiri di Papua saat itu juga menjadi pertimbangan penting .

Baca juga: Teori Quantum Entanglemen  dan  Interkoneksi dalam Hukum Alam  

Freeport sebagai jaminan AS di Papua yang berentitas AS di Papua, menjamin keutuhan NKRI. Tidak ada kekuatan asing yang berani usik Papua sebagai bagian integral NKRI. AS bantu revitalisasi alutsista TNI yang berguna dalam operasi penumpasan PKI, juga laporan intelejen dari CIA yang memuat daftar nama-nama kader PKI.

Kemiskinan, kebodohan adalah faktor utama tumbuh suburnya komunisme Rezim ORBA diberi pendampingan konsep dan program pembangunan oleh AS. Untuk mencegah pembodohan bangsa dari propaganda komunis, langkah Panglima TNI untuk memutar kembali Film G30S/PKI itu sudah tepat.‎ Untuk pembelajaran sejarah akan bangsanya , termasuk pemutaran film janur kuning dalam sejarah serangan umum 1 Maret 1949 di Jogjakarta. Sebagai pengingat akan kisah heroik para pejuang dan Kusuma Bangsa pada masa pasca kemerdekaan.

Jaman pemerintahan Orde Baru sebagai Macan Asia dalam kekuatan ekonomi saat itu melalui swasembada beras, menggalakan tehnologi melalui BPPT, diprediksi akan melampaui Jepang, Korea Selatan, Singapura dan menjadi negara maju. Dengan konsep kemandirian ekonomi dikuatirkan akan mengganggu kepentingan negara-negara besar dalam ekonomi global.

Baca juga: Aliran Kepercayaan, Apakah Sebuah Agama Ditinjau dari Perspektif Budaya Luhur Bangsa

Khususnya lembaga keuangan yang mereka gunakan untuk  kepentingan global. Itu salah satu alasan bagaimana Orde Baru harus ditumbangkan dari dalam. Sebelum dijatuhkan, Presiden Soeharto berani Membubarkan IGGI sebagai lembaga keuangan  yang dianggap terlampau intervensi secara politis kepada negara berkembang. Berencana melakukan pembataran hutang luar negeri secara lunas, yang bercita cita menerapkan kemandirian ekonomi kerakyatan dengan bertumpu pada kekuatan sendiri dengan mengolah sumber daya alam yang sangat melimpah.

Hal ini yang secara politis mengganggu kepentingan Neo Imperalisme negara-negara maju yang tidak ingin Indonesia menuju negara maju, agar tetap bergantung kepada teknologi dari negara maju dengan menguasai sumber daya alam di wilayah NKRI yang begitu besarnya. Satu-satunya jalan hanya dijatuhkan melalui operasi inteljen dengan menggunakan tangan dari anak anak bangaa sendiri, melalui gerakan mahasiswa yang ditunggangi politik global dan internal.

Ini yang sebenarnya terjadi dan hal ini tidak dipahami oleh kaum reformis yang terlanjur termakan eourofia reformasi. Dimana yang terjadi ternyata reformasi absurd tiada ujung dan tidak jelas ujung pangkalnya hingga 27 tahun kemudian.

Untuk itu jangan sekali kali melupakan sejarah bangsamu, belajarlah dari sejarah masa lalu agar bisa mengambil keputusan secara bijak dan tepat dalam langkah kedepan menyangkut kepentingan umum demi bangsa dan negaranya***

*Praktisi hukum, pemerhati masalah sosbud, hukum, politik dan sejarah bangsa, tinggal di Jakarta

Berita Terkait