*Oleh : Agus Widjajanto
DICTUM.COM- Sebagai Negara dan Bangsa yang ditakdirkan dari awal terdiri dari berbagai macam etnis, suku, bahasa daerah, Ras dan agama serta kepercayaan maka kemerdekaan menyatukan perbedaan itu untuk mencapai cita cita bersama menuju sebuah negara yang adil makmur, gemah ripah loh jinawi , toto tentrem kerto raharjo.
Itulah cita cita dari Negara Kesatuan RI, dan untuk mencapai cita cita sebagai sebuah negara yang sejak awal pluralisme, tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Dimana dalam perjalananya, timbul gesekan-gesekan sebagai bagian dari perjalanan Bangsa untuk menemukan format dan metode yang pas dalam berdemokrasi ala Indonesia.
Termasuk ada masa waktunya dengan gampang nya segolongan masyarakat mengkafirkan golongan mssyarakat lain yang tidak sealiran dan seiman. Walaupun sesuai kontitusi dan dasar negara, sudah disepakati ketika negara ini dibentuk oleh para pendiri bangsa, bahwa Indonesia bukanlah negara Agama, akan tetapi sebuah negara kesatuan yang melindungi seluruh masyarakatnya dalam memeluk agama dan kepercayaannya.
Baca juga: Komisi Yudisial Macan Ompong, Tak Punya Kewenangan Menindak Berujung Maraknya Mafia Peradilan
Membicarakan agama dan kepercayaan yang ada di Nusantara khususnya Jawa, yang sudah ada ribuan tahun sebelum datangnya agama besar baik dari Agama Samawi maupun dari Hindustan India, tidak bisa dilepaskan dari sejarah bangsa ini. Diyakini para ahli disekitar pulau-pulau yang jumlahnya ribuan pulau di Nusantara ini, pernah ada benua yang hilang, yang tenggelam karena mencairnya es di Kutub Utara, yang berakibat dunia mengalami banjir besar.
Daratan menjadi terpisah dan membentuk pulau-pulau, yang oleh Peneliti Inggris Stephen OpenHeimer tahun 1998 dengan teorinya daratan tersebut dulu disebut Sunda Land atau benua Sunda dimana antara Sumatera, Jawa, Bali, Nusa tenggara Barat dan Timur serta Kalimantan merupakan satu hamparan daratan. Saat itu kosong karena tenggelamnya benua yang hilang lalu terjadi migrasi besar besaran dari Utara ke Selatan dan mendiami pulau pulau di Nusantara ini.
Apabila dikaitkan dengan Firman Tuhan dalam Kitab Kitab Suci agama Samawi mungkin berkaitan saat banjir Bandang Nabi Nuh. Bahwa sebelum ada bangsa ini di Nusantara, yang diyakini oleh para ahli telah ada Bangsa yang sangat tinggi peradaban dan budaya serta penguasaan teknologi saat itu, disebut Bangsa LeMuria.
Konon merupakan bangsa yang ada sebelum Bangsa Atlantis, yang oleh para ahli berkaitan dengan wilayah disekitar Gunung Muria di Kudus Jawa Tengah hingga mencapai Priangan di Jawa Barat. Merupakan pusat peradaban yang diperkirakan sekitar 75 000 – 11 000 tahun Sebelum Masehi.
Baca juga: Refleksi Sumpah Pemuda Dalam Berbangsa dan Bernegara Saat Ini
Para ahli meyakini berdasarkan penelitian geologi, ada daratan yang bernama “Argolen”, sebutan atas Benua besar yang terpisah dari Australia Barat dan menghilang. Merupakan satu misteri terbesar di Dunia Geologi yang akhirnya sedikit terpecahkan dimana Argolen, Benua yang hilang yang menjadi kunci untuk menjelaskan asal usul keanekaragaman fauna di Indonesia.
Artinya, Indonesia dulu bukan merupakan negara kepulauan tapi sebuah daratan Benua besar yang terpecah karena pergeseran lempeng bumi dan adanya banjir besar karena mencairnya Kutub Utara. Ini siklus ribuan tahun yang diyakini akan kembali terjadi karena merupakan hukum alam.
LeMuria sendiri adalah Benua hopotetis yang diusulkan oleh ahli Zoologi Philip Sclaters pada tahun 1864 yang berteori tenggelamnya sebuah Benua dibawah Samudera Hindia yang kemudian Teori ini diambil alih dan dijabarkan oleh ahli Okultis dengan teori asal usul manusia. Hal ini agar para pembaca mempunyai gambaran yang jelas, tentang kondisi sebelum negeri ini terpecah menjadi ribuan pulau.
Menyangkut agama dan kepercayaan dari orang orang Nusantara pada umumnya dan Jawa khususnya, telah disepakati oleh para sejarawan dan para ahli sosiologi bahwa pada jaman kuno masyarakat Jawa menganut kepercayaan Animisme dan dinamisme. Padahal yang terjadi sesungguhnya dari kepercayaan animisme dinamisme tersebut masyarakat Jawa saat itu telah memiliki kepercayaan akan adanya kekuatan yang bersifat tak terlihat (Ghaib) yang sangat besar dan menakjubkan.
Baca juga: Perpres nomor 122 tahun 2024, tentang Pembentukan Kortastipidkor Polri, Tumpang Tindih Penanganan Tindak Pidana Korupsi
Dalam perkembangannya agama orang Jawa tersebut disebut agama “Kapitayan” yaitu agama kuno yang diyakini oleh orang Jawa sebelum datang atau masuknya agama Hindu dan Budha dari tanah Hindustan India pada abad ke-2 Masehi. Adanya kerajaan tertua pertama di pulau Syang Yang Sirah (kepala) yaitu Kerajaan Salaka Nagara. Sebuah pulau yang terletak di Ujung Kulon Banten lalu bergeser ke timur di Priangan dengan nama Taruma Nagara.
Tuhan agama Kapitayan sendiri disebut “Sang Hyang Taya” yang mana Taya sendiri bermakna kosong atau suwung, awang awung, kesunyatan yang dalam agama besar dari Samawi disebut Tuhan Allah. Berdiri sendiri tanpa wujud yang merupakan Dzat yang Esa, yang kekuasaanNya meliputi seluruh alam semesta, dimana sesungguhnya mempunyai makna yang hampir sama.
Bedanya, dari agama-agama besar, Islam, Kristen, ditulis dalam Kitab Suci secara Dogmatis. Sedang agama Jawa kuno Kapitayan merupakan ajaran leluhur yang turun temurun tanpa dibukukan dalam sebuah Kitab yang dianggap firman Illahi. Pembawa dan penyebar agama Kapitayan menurut keyakinan para penganutnya adalah Dang Hyang Semar, keturunan dari Sang Hyang Ismoyo yang berasal dari Bangsa LeMuria.
Dianggap Nabi Orang Jawa dari sejak jaman Jawa kuno hingga kini masih diyakini. Dulu berdiri dan bersemayam dipusat pemerintahannya di Jawa disekitar Gunung Muria hingga Gunung Lawu dan lembah Gunung Tidar Magelang di Jawa Tengah. Secara Etimologi, kata Kapitayan merupakan istilah berasal dari Jawa kuno yang memiliki kata dasar “Taya” (Huruf Caraka kuno) yang berarti tak terbayangkan tak terlihat dan mutlak benar.
Baca juga: Pemikiran Friedrich Karl Von Savigny, Lahirnya Pancasila dan Pemikiran Soepomo
Disini agar para pembaca bisa mengerti bahwa Bangsa ini mempunyai peradaban yang Agung dan besar sebelum datangnya agama-agama besar di dunia modern saat ini. Hanya saja karena sifat dari orang-orang Nusantara, khususnya Jawa yang selalu bisa menerima hal-hal baru dan dipadukan dengan hal-hal lama, termasuk dalam hal agama dan kepercayaan.
Maka tidak mengherankan mengapa Islam bisa diterima dan berkembang begitu cepatnya pasca Sunan Ampel Raden Rahmatullah, yang telah dianggap keluarga oleh Raja Brawijaya ke-V, karena memang ada darah Singosari dari jalur keturunan ibundanya. Ajaran agama Samawi tersebut sama dan identik dengan Tuhan dalam agama Kapitayan bahwa Tuhan tidak terlihat dan Mempunyai kekuasaan sangat besar, yang digambarkan dengan suwung atau kosong penuh kesunyatan.
Tidak mengherankan bahwa orang orang penganut Kejawen selalu mencari suwung atau susuhing angin (Rumah angin) agar bisa mengenal Tuhan yang Esa, yang lalu dijabarkan dengan penemuan Manunggaling Kawulo lan Gusti. Dalam perspektif tasawuf Jawa oleh Syech Abdul Jalil atau Siti Jenar, hingga Ronggo Warsito.
Merupakan perpaduan antara agama Jawa kuno berdasarkan ajaran Tutur Tinular dari leluhur secara turun temurun dengan ajaran sesuai Kitab Suci dalam agama Islam. Walaupun sesungguhnya Kejawen sendiri tidak hanya bagi pemeluk agama Islam saja tapi ada juga Kristen Kejawen, Budha dan Hindu Kejawen.
Baca juga: Harapan Untuk Pemerintahan Baru: Memilih Pejabat yang Punya Komitmen Memperbaiki Kondisi Penegakan Hukum
Hanya saja sudah terlanjur identik hanya Islam Kejawen karena mayoritas dalam masyarakat Jawa saat ini adalah memeluk agama Islam, yang dalam budaya lewat karya seni dimanifestasikan dunia Astral menyangkut pengayom pelindung orang Jawa dengan istilah Punokawan yang terdiri dari Semar, Gareng, Petruk, Bagong. Bukanlah hasil imajinasi dan khayalan dari penemunya, tapi memang merupakan manifestasi dari dunia Astral ke dunia nyata lewat budaya.
Hal ini pernah dalam pemerintahan Orde Baru, diimplementasikan oleh Presiden Soeharto dalam memilih petinggi hukum dinegeri ini. Pak Harto sendiri memposisikan sebagai Semar atau Ismoyo, selaku Pengayom, Gareng diemban oleh Ismail Saleh yang menjabat Menteri Kehakiman, Ali Said sebagai Petruk menjabat jaksa Agung dan Bagong diposisikan oleh Moejono yang menjabat Ketua MA.
Terbukti sangat stabil dimana penegakan hukum benar benar bagus dan bisa mengayomi masyarakat. Hal ini menunjukan bahwa Presiden Soeharto sangat memahami filosofi antara dunia Astral yang didimensikan dengan dunia nyata dalam pemerintahan Orde Baru.
Kembali kepada Tuhan dari Agama kuno Jawa Kapitayan, adalah Syang Hyang Taya, orang Jawa mendefinisikan dalam satu kalimat “Tan Keno Kinoyo Ngopo” yang artinya, tidak bisa digambarkan seperti apa yang bersifat ghaib atau tidak terlihat tapi dirasakan setiap kehadirannya.
Baca juga: Peranan MK dan Konflik Pemilukada serta Kepentingan Partai Politik
Hakekat dari pencarian urip atau hidup dalam agama Jawa, adalah menemukan Kayu Gung Susuhing Angin, yang merupakan pencarian jati diri, dimana Plong, Bolong dan Suwung sebagai wujud nyata pekerti keagamaan. Untuk bisa memahami sejatinya hidup dan kehidupan, mak kita seharusnya dilahirkan dari mana asalnya (Sang Kan Paraning Dumadi) dan setelah lahir didunia harus mengapa dan bertindak bagaimana sebagai bekal nanti di alam kekal, setelah kita tiada, kita kemana.
Itu adalah filosofi Jawa yang terkandung dalam huruf Honocoroko, yang merupakan lanjutan dan darma bakti dari pada agama Jawa Kapitayan, yang memandang utusannya yaitu, Ki Semar sebagai Kadewatan (Dunia Dewa) yang lebih memfokuskan pada laku kita. Darma bakti sebagai mahluk Hidup yang merupakan bagian dari alam semesta, Jagad cilik dan Jagad Gede.
Itu sudah ada ribuan tahun sebelum datangnya agama-agama besar di Nusantara, khususnya Jawa. Salah jika memandang nenek moyang kita hanya mempunyai kepercayaan Animisme Dinamisme, dan tidak berbudaya. Tidak heran karena antara Tuhan Allah dalam Alquranul Kharim punya makna yang sama dengan Tuhan dari Agama Jawa kuno Kapitayan. Dengan demikian wajar apabila perkembangannya sangat pesat dan cepat di Nusantara ini khususnya Jawa.
Apabila dikaitkan dengan agama Kapitayan dengan Agama Budi seperti yang diramalkan dalam Ramalan Jayabaya, akan datangnya Agama Budi bersenjatakan Trisula Weda, akan menagih janji sesuai janji perjanjian Sabdo Palon Noyogenggong dengan Syech Subakir ditanah Jawa.
Baca juga: Filsafat Modern dan Sindrom Hiper Intelektualisme
Bisa dijelaskan disini, yang mempunyai makna, segala tindakan kita dalam ibadah yang bersifat Mu’amallah, harus manunggal atau satu antara hati, ucapan, dan tindakan manusia yang harus berbudi luhur sesuai ajaran luhur, yang digambarkan sebagai sebuah pusaka atau senjata Trisula Wedha yang bisa menyelamatkan manusia.
Kadang pada jaman modern ini, manusia hanya menonjolkan Akidah dan Ritual ibadah seperti sholat, puasa, zakat, haji, akan tetapi tidak ditransformasikan akidah-akidah tersebut dalam tindakan nyata, dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat (Mu’amAllah) .
Itu yang kerap menjadikan kita sebagai manusia yang gagal paham dalam memahami sebuah ibadah secara utuh, lebih miris lagi terjadi fenomena, bahwa bangsa ini dulu bangsa penyembah berhala, yang apabila tidak datang agama-agama besar samawi maka bangsa ini tetap akan jadi bangsa penyembah animisme dinamisme. Hal ini karena kekerdilan cara berpikir dan tidak tahu secara utuh sejarah masa lalu bangsa ini.
Sebuah bangsa yang mempunyai peradaban yang sangat besar dimana dibelahan dunia lain masih primitif, Bangsa di tanah Nusantara ini sudah berbudaya tinggi dan mempunyai peradapan yang sangat luar biasa agung dan besar.
Baca juga: Gratifikasi dari Perpektif Filosofi Pancasila dan Membangun Sistem Peradilan Pidana Korupsi yang Holistik
Jalaludin Rumi dalam bukunya yang sangat terkenal yakni “Fihi Ma Fihi” menulis bahwa selamanya agama lebih dari satu, dua atau tiga bahkan lebih. Selama agama dipolitisasi maka pertempuran dan peperangan selalu terjadi diantara mereka. Bagaimana engkau mengharapkan agama menjadi satu?
AGAMA tidak akan menjadi satu kecuali di akhirat kelak pada hari kiamat. Itu tidak mungkin terjadi di dunia sebab di sini di dunia ini setiap orang punya tujuan dan keinginan yang berbeda-beda dan penyatuan tidak mungkin terjadi. Hanya mungkin terjadi di hari kiamat dan Allah yang akan jadi hakimnya, yang mana pada saat itu seluruh manusia menjadi satu, memandang kearah yang satu memiliki telinga dan lesan yang satu.
Tuhan yang Esa mempunyai makna yang sangat dalam, tidak hanya menerangkan kepada dunia dan masyarakat internasional serta seluruh warga negara, bahwa Tuhan itu satu dengan kekuasaan nya memberikan berbagai jalan untuk mengenal nya. Lewat ajaran ajaran yang telah diberikan oleh dia, tapi juga mempunyai makna filosofis yang sangat luas dan dalam.
Seluruh alam semesta beserta isinya dan mahluk yang ada dimuka bumi Ini hanyalah hasil ciptaanNya dan merupakan perwujudan dari Tuhan yang Esa itu sendiri, yang terdiri dari berbagai etnis, suku, golongan, ras, dan keyakinan dengan segala perbedaannya. Itulah Aku , yang oleh Jalaludin Rumi disebut dengan tiga kata “Ana Al Haqq”.
Baca juga: Aku adalah Kita, Rekonsiliasi Permasalahan Politik Masa lalu, Dalam Pelanggaran HAM Untuk Menatap Masa Depan Bangsa
Bahkan Jalaludin Rumi , menulis dalam kitabnya saat ditanya oleh sahabatnya, apakah ada cara lain untuk mendekatkan diri kita kepada Tuhan Allah yang Esa dibandingkan dengan shalat? Dijawab oleh Beliau, ada yakni shalat itu sendiri. Tapi bukan semata mata shalat yang hanya berdasarkan gerakan fisik sesuai aturan seremonial beribadah, dimana gerakan fisik hanya kemasan.
Dimana shalat memiliki permulaan dan akhir semua yang memiliki permulaan dan akhir adalah kemasan. Takbir adalah permulaan shalat dan salam adalah akhir, begitu juga dengan kalimat syahadat, bukan hanya ucapan lesan syahadat memiliki permulaan dan akhir. Bahkan mempunyai bentuk dan kemasan, sementara Ruh dari kalimat itu tidak dibatasi apapun dan tidak termaknai, tidak memiliki permulaan dan akhir.
Jadi jelas kata Rumi, Ruh shalat dan syahadat bukan bentuk lahiriah saja, Ruh shalat adalah tenggelamnya jiwa secara utuh dan ketidak hadiran tubuh, yang mana meninggalkan seluruh bentuk lahiriyah. Diluar Ruh tak tersisa ruang sedikitpun bahkan untuk para malaikat sekalipun. Itulah esensi sholat, hubungan langsung antara Kawulo dengan kaisar.
Hingga beliau menulis “Sungguh kasihan orang yang sampai ke Laut dan merasa puas hanya mendapatkan sedikit botol air, sementara didalam lautan itu sendiri ada ribuan mutiara dan benda benda berharga yang seharusnya bisa dikumpulkan”. Hal ini sangat dalam filosofi nya, apabila dikaitkan dengan fenomena jaman saat ini. Banyak sekali orang yang hanya mendapat kan sebotol air dari lautan yang maha luas, seakan tiada bertepi tapi seolah-olah sudah melebur seluruh air dalam samudera raya hingga berani memvonis salah benar, kafir dan kedudukan surga neraka hanya bagi kaum dan golongan tertentu.
Baca juga: Hukum Kodrat, Moral dan Pancasila sebagai Dasar Negara dalam Perspektif Keindonesiaan
Lalu Ke mana semua sungai bermuara ? Semua sungai (Panjang atau pendek, luas , lebar atau tidak) pada akhirnya bermuara ke SAMUDERA. Jikalau kesadaran, pemahaman kita dan tingkat kerohanian kita (Siapapun dan memeluk agama apapun dia) sudah pada pemahaman Samudera (Nilai KeTuhanan), maka niscaya tidak akan lagi bicara “Sungai” Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan sebagainya.
Dengan kata lain, kalau kita sudah bicara Samudera, maka kita tidak lagi akan bicara soal “Sungai” karena semua agama tujuan dan muara adalah Samudra keimanan. Demikian juga Sungainya Kristen, Katholik, Hindu, dan Budha juga menuju dan bermuara ke samudera juga.
Faunding Fathers sudah menegaskan Negara Indonesia adalah “Nation State” dengan Dasar Negara Pancasila yang mengakui keberadaan semua agama dengan sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa” adalah manifestasi dari Samuderanya Keilahian bagi semua agama di dunia, yang dianut oleh seluruh rakyat Indonesia yang homogen.
Den ajembar , den momot, lawan den wengku , Den Koyo Segoro. Filosofi ilmu padi, semakin dalam dan berisi maka padi akan semakin merunduk karena batangnya tidak lagi mampu untuk menopang buahnya yang telah matang tadi. Mati menjadikan diri kita sebagai Kawulo-kawulo dari Sang Kaisar Tuhan yang Esa, yang perwujudanNya sesungguhnya adalah seluruh alam semesta ini beserta isinya beserta mahluk nya dan beserta Kalam-kalam hukumnya yang telah ditabur kan kepada wakil-wakilnya.
Bukan hanya satu, dua, tiga tapi beragam, itulah esensi dari manusia yang memang diciptakan untuk bagaimana bisa mempunyai rasa kemanusiaan untuk diabdikan pada seluruh umat dan alam semesta, berbuat baik kepada sesama dan semesta alam****
*Praktisi Hukum dan Pemerhati Sosial Budaya, Politik dan Hukum. Tinggal di Jakarta







